WONOSALAM | - Suasana khidmat dan penuh ketenangan menyelimuti kediaman KH. A. Hamid, atau yang akrab disapa Gus Mid, pada Kamis malam, 1 Oktober 2026. Tokoh agama yang dikenal santun tersebut kembali menggelar kegiatan keagamaan rutinan setiap malam Jumat berupa kajian kitab kuning yang dirangkai dengan pembacaan tahlil serta pengiriman doa (kirim doa) untuk para leluhur. Kegiatan yang berlangsung secara berkala ini bertempat langsung di kediaman pribadi beliau yang berlokasi di kawasan Wonosalam. Acara keagamaan ini dihadiri oleh puluhan jamaah, santri, serta masyarakat sekitar yang antusias menimba ilmu agama langsung dari beliau, menciptakan atmosfer spiritual yang begitu kental di tengah sejuknya udara malam.
Dalam kajian kali ini, Gus Mid secara khusus membedah Kitab Taysirul Kholaq, sebuah karya monumental bidang akhlak dan budi pekerti yang ditulis oleh ulama tersohor Syekh Hafidz Hasan Mas'udi. Kitab klasik ini sengaja dipilih karena memiliki relevansi yang sangat kuat dalam membentuk karakter serta moralitas individu di era modern, terutama terkait adab kepada sesama manusia maupun kepada Sang Pencipta. Gus Mid dengan telaten dan penyampaian yang lugas menjelaskan bab demi bab, memberikan pemahaman mendalam tentang pentingnya menjaga lisan, menghormati orang tua, serta menumbuhkan sifat rendah hati dalam kehidupan bersosialisasi sehari-hari. Menurut beliau, pemahaman moral keagamaan yang kuat merupakan tameng utama agar umat tidak mudah terombang-ambing oleh derasnya arus perkembangan zaman.

Kegiatan yang berlangsung dengan penuh kekhusyukan ini kemudian ditutup dengan sesi kirim doa bersama, di mana seluruh jamaah melantunkan zikir, tahlil, dan tahmid yang ditujukan khusus bagi para arwah keluarga, leluhur, serta para pejuang syiar Islam terdahulu. Melalui rutinan mandiri ini, Gus Mid berharap kebiasaan baik untuk terus menuntut ilmu dan menghormati para pendahulu lewat doa dapat senantiasa lestari di tengah masyarakat Wonosalam. Selain berfungsi sebagai sarana transfer ilmu keagamaan yang bersumber dari kitab-kitab muktabar, majelis non-formal ini juga terbukti efektif menjadi wadah silaturahmi yang mempererat tali persaudaraan antarwarga, membuktikan bahwa dedikasi membimbing umat dapat berjalan konsisten melalui jalur-jalur kultural yang damai dan menyejukkan.